Konflik Iran Picu Kelangkaan Pupuk Global, Harga Pangan Dunia Terancam Naik

Oleh redaksi

pada Jumat, 10 April 2026

Ilustrasi pupuk tanaman (Istimewa)

URBANKALTIM.COM – Konflik Iran yang mengganggu jalur distribusi di Selat Hormuz mulai memicu krisis baru pada sektor pangan global. Tidak hanya menghambat pengiriman minyak, perang di kawasan Teluk kini juga menekan pasokan pupuk dunia dan mengancam kenaikan harga pangan di banyak negara.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dan komoditas dunia. Ketika distribusi di kawasan itu tersendat, efeknya langsung terasa pada rantai pasok pupuk berbasis nitrogen, terutama urea yang menjadi unsur penting dalam produksi pangan global.

Analis pasar pupuk global dari StoneX, Josh Linville, mengatakan hampir setengah perdagangan urea dunia berasal dari kawasan Teluk. Dari wilayah yang sama juga dipasok sekitar seperlima kebutuhan gas alam cair dunia, bahan baku utama produksi pupuk.

Baca juga  Viral Motor Listrik BGN Rp56 Juta, Publik Soroti Besarnya Anggaran

Gangguan distribusi akibat perang membuat sejumlah pabrik pupuk dan LNG dari Qatar hingga Bangladesh mulai menghentikan operasionalnya. Situasi ini dinilai sangat rawan jika akses pelayaran di Selat Hormuz tidak segera pulih.

“Ini benar-benar hanya satu langkah lagi menuju skenario terburuk,” kata Josh Linville.

Menurut dia, meski gencatan senjata sementara telah diumumkan, pasar pupuk belum bisa pulih cepat karena distribusi logistik masih terganggu. Jika kondisi ini berlanjut, kelangkaan pupuk dapat semakin luas dan menekan musim tanam di berbagai negara.

Kelangkaan pupuk diperkirakan akan berdampak langsung pada harga pangan global. Saat pupuk sulit diperoleh dan harganya melonjak, biaya produksi pertanian ikut naik, lalu dibebankan ke harga bahan makanan.

Baca juga  Dari Kremlin ke Paris, Prabowo Lanjutkan Diplomasi ke Macron

Negara-negara miskin diprediksi menjadi pihak paling rentan terdampak. Berbeda dengan India dan China yang memiliki cadangan pupuk besar serta kemampuan subsidi, banyak negara berkembang tidak memiliki ruang fiskal cukup untuk melindungi petani mereka.

India pernah menaikkan subsidi pupuk hingga 233 persen saat krisis pupuk global pada 2022. Namun negara seperti Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka kemungkinan sulit melakukan langkah serupa.

Ketika negara besar memilih menahan ekspor pupuk demi kebutuhan domestik, tekanan pasar global justru makin berat bagi negara importir kecil.

Di tengah ancaman ini, petani mulai dipaksa beradaptasi. Salah satu cara yang dilakukan adalah beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk, seperti kedelai dan tanaman polong-polongan.

Baca juga  China Bantah Laporan Intelijen AS soal Dugaan Kirim Senjata ke Iran

Namun solusi itu tidak selalu mudah diterapkan, terutama di Asia Tenggara yang bergantung pada padi sebagai pangan utama. Perubahan jenis tanaman sering kali terbentur kondisi cuaca, musim hujan, dan kebutuhan pangan lokal.

Selain itu, efisiensi penggunaan pupuk juga menjadi opsi penting. Banyak studi menunjukkan petani dunia sebenarnya masih memakai pupuk melebihi kebutuhan, sehingga pengurangan dosis yang tepat dapat menekan pemborosan.

Linville menilai stabilisasi pasokan pupuk kini menjadi kebutuhan paling mendesak. Tanpa pemulihan distribusi di Selat Hormuz, dunia berisiko menghadapi gelombang baru inflasi pangan.

“Kita kehilangan pasokan dalam jumlah yang sangat besar, pada skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” ujar Linville. (UK)

Bagikan: