Update Dua Tanker Pertamina di Selat Hormuz, Pasokan Minyak Nasional Kini Jadi Sorotan

Oleh redaksi

pada Jumat, 10 April 2026

Kapal Pertamina di Selat Hormuz (Istimewa)

URBANKALTIM.COM, JAKARTA – Dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero), Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab setelah sekitar satu bulan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kondisi ini menjadi sorotan karena salah satu kapal membawa minyak mentah yang diperuntukkan bagi kebutuhan energi nasional.

Situasi tersebut terjadi di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Jalur Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute pelayaran minyak terpenting dunia kini berada dalam pengawasan ketat, termasuk bagi kapal-kapal Indonesia.

VP Corporate Communications Pertamina, Muhammad Baron mengatakan perusahaan terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri agar proses diplomasi dan negosiasi berjalan lancar.

Baca juga  Usai Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Selat Hormuz Kembali Dibuka

Menurut Baron, keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama, bersamaan dengan upaya menjaga keamanan muatan yang dibawa kedua tanker tersebut.

“Kami mengintensifkan koordinasi dengan Kemenlu agar proses diplomasi dan negosiasi berjalan dengan baik. Prioritas utama kami memastikan keselamatan awak kapal dan keamanan muatannya,” kata Baron, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, kedua kapal saat ini masih berada di Teluk Arab sambil menunggu izin dan kepastian jalur aman untuk melintas. Salah satu tanker diketahui membawa minyak mentah yang dibutuhkan untuk pasokan dalam negeri.

Pertamina, kata Baron, juga telah menyiapkan langkah antisipasi jika distribusi reguler terganggu. Perusahaan membuka opsi pengadaan alternatif maupun jalur emergensi demi menjaga stabilitas suplai energi nasional.

Baca juga  Iran Ungkap 10 Poin Gencatan Senjata Usai 40 Hari Perang dengan Amerika Serikat

“Salah satu kapal tanker mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan nasional,” ujar Baron.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri menyebut hambatan utama saat ini bukan sepenuhnya faktor politik, melainkan kendala teknis yang masih dibahas bersama berbagai pihak terkait.

Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan Indonesia sebenarnya telah menerima sinyal positif dari Iran terkait peluang kapal untuk melintas. Namun sejumlah syarat teknis belum sepenuhnya rampung.

Koordinasi terus dilakukan melalui berbagai jalur diplomatik, mulai dari Kemlu, KBRI Teheran, pemerintah Iran, hingga Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

“Masih ada beberapa hal yang cukup teknis yang sedang ditindaklanjuti,” kata Vahd, Rabu (8/4/2026).

Baca juga  Konflik Iran Picu Kelangkaan Pupuk Global, Harga Pangan Dunia Terancam Naik

Ia menambahkan, aspek teknis itu mencakup keselamatan pelayaran, kelengkapan asuransi, serta kesiapan kru kapal untuk melintasi kawasan yang masih rawan konflik.

Meski sejumlah negara seperti Malaysia, India, Pakistan, dan Filipina telah berhasil meloloskan kapal mereka dari Selat Hormuz, pemerintah menegaskan setiap negara memiliki pendekatan berbeda sesuai kepentingan masing-masing.

“Betul-betul tingkat teknis yang memang harus dibahas dengan melibatkan Pertamina dan juga pihak-pihak terkait di lapangan di sana,” ujar Vahd.

Dengan belum bergeraknya Pertamina Pride dan Gamsunoro, perhatian kini tertuju pada kecepatan diplomasi Indonesia dalam mengamankan jalur distribusi energi, agar pasokan minyak nasional tidak terganggu dalam waktu lama. (UK)

Bagikan: