URBANKALTIM.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada dalam tekanan pada awal pekan. Sejumlah sentimen global dinilai masih membayangi pergerakan mata uang domestik, sehingga potensi pelemahan tetap terbuka.
Meski sempat menguat di akhir pekan lalu, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren tekanan yang terjadi sepanjang minggu. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan global yang dinilai belum stabil.
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah ditutup di level Rp17.229 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini menguat 0,33 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS.
Namun dalam pergerakan intraday sepanjang pekan, rupiah sempat menyentuh titik terlemah. Pada Kamis (23/4/2026), rupiah bahkan berada di level Rp17.310 per dolar AS yang menjadi rekor terendah sepanjang sejarah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup besar meski sempat mengalami penguatan sementara. Fluktuasi yang tinggi mencerminkan ketidakpastian pasar yang belum mereda.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah. Salah satu pemicu utama adalah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran masih menyisakan ketidakpastian. Meskipun ada upaya gencatan senjata, negosiasi yang berjalan belum mencapai titik temu.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi sorotan karena berpotensi terdampak konflik berkepanjangan.
“Komentarnya meningkatkan kekhawatiran atas konflik AS-Iran yang berkepanjangan,” ujar Ibrahim, Minggu (26/4/2026).
Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi aman. Dampaknya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah semakin terasa.
Untuk perdagangan awal pekan, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Tekanan global diperkirakan masih akan mendominasi sentimen pasar dalam jangka pendek.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang yang relatif terbatas. Level pergerakan diproyeksikan berada di kisaran Rp17.220 hingga Rp17.260 per dolar AS pada Senin (27/4/2026).
“Rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.220 – Rp17.260,” kata Ibrahim. (UK)





