Menteri LHK Tinjau Habitat Pesut Mahakam di Desa Pela, Kota Bangun Perkuat Aturan Pelestarian

Oleh redaksi

pada Kamis, 3 Juli 2025

Plt Camat Kota Bangun, Abdul Karim (Istimewa)

TENGGARONG – Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Kota Bangun, Abdul Karim, memberikan apresiasi tinggi atas kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI ke Desa Pela, Kamis (3/7/2025). Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), satwa langka endemik Sungai Mahakam yang populasinya kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 ekor.

“Kami dari Pemerintah Kecamatan Kota Bangun menyampaikan terima kasih kepada Menteri LHK, Gubernur Kalimantan Timur, serta Bupati Kutai Kartanegara atas perhatian serius mereka dalam pelestarian pesut Mahakam. Ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus menjaga dan merawat ekosistem Mahakam,” ujarnya.

Baca juga  Didominasi Atlet SMP, Kukar Tetap Finis Tiga Besar POPDA Kaltim 2025

Dalam kunjungan itu, Menteri LHK menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif konservasi yang dijalankan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, di bawah kepemimpinan Alimin yang juga menjabat Ketua Pokdarwis Provinsi Kalimantan Timur.

“Alhamdulillah, Menteri menyampaikan dengan tegas bahwa populasi pesut Mahakam harus segera ditingkatkan. Ini pesan penting bagi seluruh masyarakat agar lebih peduli dan terlibat aktif dalam upaya konservasi,” tambahnya.

Baca juga  Tradisi dan Inovasi Berpadu, Tim Sri Muntai Juara Lomba Begerakan Sahur di IRMA Ramadhan Fair 2025

Pemerintah Kecamatan Kota Bangun juga telah menerapkan kebijakan pelestarian di tingkat lokal, seperti menjaga jalur habitat pesut dengan melarang pembuangan sampah plastik ke Sungai Mahakam. Langkah ini untuk mencegah pencemaran dan melindungi bibit pesut yang rentan terhadap perubahan lingkungan.

Selain itu, pengaturan transportasi air juga diperketat. Kapal cepat seperti sepit dilarang memacu gas berlebihan saat melintasi habitat pesut, demi menghindari kebisingan dan gelombang besar yang dapat mengganggu satwa maupun merusak rakit dan keramba warga.

Baca juga  Kukar Bidik 2 Juta Wisatawan di 2025, Dorong Transformasi Pariwisata Berbasis Cerita dan Pengalaman

“Seperti yang dicontohkan langsung oleh Ibu Menteri, beliau memilih menggunakan longboat daripada sepit. Ini menjadi teladan nyata bahwa pelestarian harus dimulai dari hal kecil yang konkret,” jelas Abdul Karim. (Adv)

Bagikan: