Kue Keroncong Teluk Dalam Jadi Primadona Oleh-oleh, Omset Pedagang Bisa Tembus Jutaan

Oleh redaksi

pada Kamis, 3 Juli 2025

Kue Keroncong di Desa Teluk Dalam (Urbankaltim)

TENGGARONG – Kue keroncong dari Desa Teluk Dalam terus menjadi buruan wisatawan dan masyarakat lokal yang mencari oleh-oleh khas Kutai. Camilan tradisional berbahan dasar kelapa parut ini kini tak hanya hadir di sepanjang Jalan Teluk Dalam menuju Jalan AP Mangkunegara, tetapi juga mulai merambah berbagai event besar di luar daerah.

Adalah Sisilia Erawati, pemilik Kue Keroncong Nadimah, yang sudah enam tahun menekuni usaha kuliner ini. Sejak 2019, ia setia berdagang meski kini jumlah penjual kue keroncong di jalur Teluk Dalam tak seramai dulu.
“Saya sudah berjualan dari tahun 2019, pada saat itu sepanjang Jalan Teluk Dalam ramai yang berjualan kue keroncong,” ucapnya, Kamis (3/7/2025).

Baca juga  Mau Sertifikat Halal Gratis? Ini Cara Daftarnya Lewat DiskopUKM Kukar

Selain keroncong, Sisilia juga menyediakan jajanan khas lain seperti kue cincin, kue balok, elat sapi, amplang, tole-tole, kembang goyang, hingga keminting. “Semua cocok dijadikan oleh-oleh khas Kutai, tapi yang paling banyak diminati oleh masyarakat untuk dijadikan oleh-oleh atau buah tangan yaitu kue keroncong, kue cincin dan amplang dan elat sapi,” sebutnya.

Proses pembuatan kue keroncong membutuhkan ketelatenan. Adonan dibuat dari campuran kelapa parut, telur, tepung, gula, vanili, dan garam, lalu dipanggang dalam cetakan khusus. “Kemudian dimasukkan kelapa parutnya. Setelah itu, cetakan dipanaskan, dikasih mentega, baru dituang adonannya,” jelasnya.

Baca juga  Camat Muara Badak Dorong Profesionalisme Pengelola Wisata, Fokus di Pantai Tanjung Limau

Harganya pun sangat terjangkau, hanya Rp1 ribu per biji. “Kami beri harga segitu karena bahan utamanya kayak kelapa udah mulai naik,” terangnya.

Dari usaha ini, Sisilia mampu meraup omzet lebih dari Rp3 juta per bulan. Bahkan saat berjualan di lokasi strategis, hasilnya bisa berlipat ganda. “Kalau pendapatan jualan di sini sekitar Rp3 juta lebih, tapi kalau berjualan di Simpang Odah Etam itu bisa mencapai dua kali lipat pendapatan saya dalam sehari di sini,” ujarnya.

Baca juga  Roma Malau Ajak UMKM Transmigrasi Melangkah: “Produk Kita Harus Dikenal Orang Luar”

Tak hanya mengandalkan penjualan lokal, Sisilia juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Ia difasilitasi gerobak dan tempat berjualan di Simpang Odah Etam (SOE) melalui Dinas Koperasi dan UKM Kukar. “Saya mendapatkan gerobak untuk berjualan dan difasilitasi tempat di Simpang Odah Etam (SOE),” katanya.

Lebih dari itu, produk keroncongnya bahkan dibawa pemerintah ke berbagai festival dalam dan luar daerah. “Kemarin baru saya baru pulang dari event Eroh Bebaya di Yogyakarta dan Etam Begenjoh di Malang, Saya harap dengan bantuan Pemerintah usaha saya bisa terus berkembang dan sukses,” tutupnya. (Adv)

Bagikan: